Antyo Rentjoko (Tyo), seorang blogger dengan nama alias Paman Tyo dan Mas Paman, punya beberapa lahan, yang utama di Blogombal. Salah satu pendiri dagdigdug.com ini, sebelum menjadi ronin, pernah menjadi jurnalis pada beberapa penerbitan di lingkungan Kompas Gramedia.
Heboh pekan lalu tentang “serangan jantung yang dialami Steve Jobs” itu sudah reda. Harga saham Apple Inc. sempat turun 5,4% karena lontaran kabar di iReport.com, situs “jurnalisme warga” (yang berslogankan “Unedited. Unfiltered. News”) milik CNN itu.
Kalau kabar bohong itu munculnya di blog utama saya tentu tak akan dipercaya, bahkan misalnya saat itu saya sedang berada di Cupertino, kota Apple di California, sekalipun. Cuma gombalan mirip igauan kenapa dihiraukan? Akan tetapi ini menyangkut nama besar media: CNN.
Mantera bernama partipasi dan kolaborasi
Begitulah yang terjadi sekarang. Blog sebagai sebuah penerbitan personal akhirnya dilirik oleh penerbit media. Partisipasi dalam penyajian informasi mulai mendapat tempat yang lebih luas dan lebih lekas melebihi apa yang bisa disediakan oleh kapling surat pembaca.
Bentuk awal partisipasi, untuk kontrol dan pengimbang, adalah penyediaan kotak komentar dalam setiap berita di koran online.
Internet telah memberikan kebaruan: respon yang cepat dari pembaca, dan jika tidak dimoderasi akan langsung terbaca oleh khalayak ramai maupun sepi, bahkan mungkin si jurnalis penulis berita tahunya belakangan. Perkecualian berlaku untuk jurnalis yang selalu bangun dari tidurnya setiap kali gadget-nya melaporkan komentar masuk pada pukul dua pagi.
Kemudian mainstream media pun menyediakan blog. Mulanya untuk orang dalam, seperti yang dimulai oleh USA Today. Urusan beginian pernah saya percandakan sebagai blog dinas yang hanya menambahi pekerjaan.
Oh, tak hanya menambahi pekerjaan melainkan juga merepotkan. Sudah menulis untuk koran atau majalah sendiri, secara by line tapi sekaligus (akan tercitrakan) sebagai cerminan haluan penerbit, eh… masih membuat kolom tambahan yang merupakan opini pribadi tapi tidak bebas juga karena blog tetap menjadi subdomain atau folder dari situs kantornya. Sudah begitu tanpa tambahan gaji pula.
Ibaratnya, (sebagian) khalayak akan membedakan pepihnugraha.com dan pepihnugraha.kompasiana.com.
Kemudian pintu partisipasi dibuka lebih lebar. Media yang punya web menampung laporan dari masyarakat, baik berupa foto, video, maupun tulisan. Atas nama kecepatan dan sekaligus kepercayaan (juga: kontrol oleh masyarakat), orang luar boleh langsung mengeposkan ceritanya.
Maka muncullah produk media hasil kolaborasi. Isi tak hanya disusun oleh editor melainkan juga diperkaya, bahkan bisa didomininasi, oleh orang luar kantor.
Editor bukan lagi si serbatahu karena pembaca, melalui internet, juga mendapatkan akses yang sama terhadap sumber informasi — sejak siaran kantor berita sampai ensiklopedia. Bahkan pembaca bisa memproduksi informasi sendiri dari pengalamannya dan sumber-sumber yang dapat diaksesnya.
Ini pun sebetulnya tak terlalu baru. Radio sudah melakukannya. Salah satu hasil di luar laporan lalu lintas adalah kesaksian pendengar saat Kerusuhan Mei ‘98 di Jakarta. Cerita via telepon yang diudarakan Radio Sonora, berdasarkan apa yang dilihat maupun didengar seseorang, menjadi warta bagi khalayak.
Baiklah, itu karena situasi darurat; informasi kadung simpang siur dan radio (waktu itu mobile internet dan microblogging belum ada) adalah media yang efektif. Serupa zaman Soeharto ketika penerbitan bawah tanah menjadi sexy karena bisa memberikan alternatif tabu di luar media ber-SIUPP, sementara media cetak impor disensor.
Adapun televisi kita, tapi masih dalam kerangka peyuntingan, sudah pernah memperkaya isi dengan video kiriman pemirsa — meniru America’s Funniest Home Videos. Kemudian yang lebih newsy dan monumental muncul: video tsunami di Metro TV.
Pada kasus video kiriman di TV, media telah memformat sebuah konteks. Video yang tertayang hadir melalui proses editorial, bukan asal tayang tanpa jadwal juragan seperti di YouTube.
Kearifan khalayak
Apakah semua yang disampaikan oleh pendengar radio, dan kemudian netters, itu faktual? Misalkan faktual, apakah sudah dengan sendirinya memenuhi kaidah jurnalistik — sejak pencarian, perolehan, sampai penyajian berita?
Di sisi lain bisa juga muncul pertanyaan: apakah laporan yang disampaikan oleh warga biasa, bukan oleh jurnalis, harus disusun menurut standar kerja jurnalistik, lengkap dengan etika profesinya? Bukankah media dan penulisnya bisa memanfaatkan kontrol oleh khalayak sebagai bagian dari “wisdom of the crowd“?
Bisa juga muncul ledekan: memangnya yang disajikan oleh jurnalis media selalu benar? Setiap media punya rubrik tidak tetap yang bernama “Ralat” — tetapi yang tak diralat belum tentu benar.
Jadi, bagaimana dong? Aha! Mari berdiskusi. Pendekatan saya terhadap masalah bisa jadi salah. Begitu pula klaim lama saya ketika awal ngeblog dengan nama asli dan domain sendiri: “Blog ini Bukan Halaman Jurnalistik“.
Soal lain masih ada. Jika terjadi kesalahan atau apapun yang berarti masalah dari sebuah komentar dan tulisan dalam blog di portal milik media, dalam batas apakah penerbit (editor) turut bertanggung jawab? Cukup dengan disklaimer?
Beberapa kali seorang jurnalis, warga Tengerang, menolak meng-update langsung sebuah blog kolaboratif yang berisi opini. Mulanya dia selalu mengirimkan naskah via e-mail ke admin. Dia beralasan, “Sesuai kelaziman dan standar media mana pun bahwa semua naskah harus melalui editor.”
Di sini, blog Kompasiana, saya menulis langsung tanpa campur tangan editor. Misalkan apa yang saya tulis itu muncul di versi cetak Kompas, pasti akan tersunting. Setidaknya kata “internet” akan menjadi “Internet” (”i” kapital).
Di sini semua langsung lolos. Sebagai itikad baik dan bentuk pertanggungjawaban, saya memasang semacam disklaimer. Yang maksimal dapat dilakukan penanggungjawab Kompasiana adalah menghapus tulisan saya, tetapi ada kemungkinan tembolok Google sudah menyalinnya.
Ada saja hal baru di internet. Atau tak baru, hanya berganti rupa? Sekadar meneruskan tembok demokrasi, yang siapa saja boleh menempelkan pamflet, dan suatu saat pemilik tembok bisa melepasnya?
Ketika blog, atau apapun namanya kelak, kian banyak sehingga internet menjadi belantara teks, maka kearifan (atau kewarasan?) kita dalam memperlakukan informasi selalu diuji. Ini mengasyikkan.
© Sumber gambar worth1000.com (contoh media kolaboratif)
Tags: apple, blog, hoax, ireport.com, jurnalisme warga, kearifan khalayak, kolaborasi, partisipasi, steve jobs
Share on Facebook
Share on Twitter
Menarik, paman. Kredibilitas selalu menjadi salah satu faktor utama keberhasilan ataupun kegagalan jurnalisme warga. Stomp.com.sg berhasil mengkombinasikan jurnalisme warga dan proses verifikasi oleh tim internal. Memang gak sulit krn Singapore is practically a tiny island :D.
Tapi apakah jurnalisme warga perlu disaring? Kalaupun disaring ala stomp.com.sg, tentu modelnya juga bermacam-macam. Di Kompasiana, para blogger dipilih dan diundang. Paling tidak blogger2 di Kompasiana bukan anonymous. Saya cenderung setuju bhw kearifan khalayak akan membantu membentuk jurnalisme warga yang ideal. Itulah bentuk partisipasi dan kolaborasi seutuhnya.
Makasih sdh mengangkat isu pemilik media dan situs jurnalisme warga ini. Semoga menjadi perhatian bagi kami dan para pengurus media lainnya. Salam.
—
Memang Ed, ujung-ujungnya kredibilitas. Masaahnya, kredibilitas kadang tak dengan mudah diberlakukan secara umum. Bagi khalayak tertentu, media anu lebih dipercaya, dan kalaupun sesekali salah akan lebih mudah dimaafkan.
(Tyo)
Tulisan di koran terkenal banyak juga yg sdh tdk lewat tangan editor sehingga kadang-kadang kualitasnya sangat patut dipertanyakan. Semakin sulit membedakan koran skrg dgn blog, khususnya soal kualitas tulisannya.
Ada tulisan di koran yg kualitasnya ngawur nan asbung (berkali-kali dan selalu lolos sensor), ada juga tulisan di blog yg kualitasnya tingkat tinggi (seperti tulisan Paman Tyo, misalnya). ![]()
—
Ben, blog telah memberikan pencerahan kepada saya. Ternyata tak sedikit blogger yang tulisannya tak kalah bahkan sama dan kadang melebihi kolumnis tetap di koran. Dari bloggers hebat itulah saya belajar.
(Tyo)
Oh ya, kalau berita keliru di Bloomberg kapan hari soal Steve Jobs juga itu salah siapa ya?
Maaf, saya kurang mengikuti perkembangannya.
—
Kalau kasus Bloomberg, hahahaha… ya salah redaksinya dong.
(Tyo)
saya katakan yang perlu dikatakan lewat tulisan di sini, paman –>> ini
—
baiklah, kawan. link sampeyan sudah saya perbaiki.
(tyo)
Paman Tyo, boleh saya mendapatkan kontak Ndoro Kakung? Saya mau memberi kehormatan pada Ndoro untuk menulis di si Kompasiana ini. Satu lagu saya ingin ada guest blogger Kompasiana yang perempuan, Paman. Kira-kiranya Paman bisa ngasih saya pilihan dan kemungkinan? Sori, saya belum mengomentari artikel elok ini, tetapi setelah ini saja. Bukan apa-apa, saya adalah jurnalis arus besar yang coba mempraktikkan jurnalisme warga.
—
Terima kasih. Anda dan Wicaksono a.k.a. Ndoro Kangkung itu sama: jurnalis media arus utama yang juga blogger.
(Tyo)
oot saya baru tau skg siapa nama sesungguhnya paman tyo
waaaa ini nama asli bukan yah
—-
hahaha. coba lihat header, bukan herder, di blogombal.org. sudah terpasang sejak awal.
(tyo)
kalo modhel demokrasi penulisan kayak gini di seputaran kota besar kayak nJakartee sih keliatannya mulai bisa diterima yaa. Tapi, sayangnya demokrasi macam ini gak terjadi pada media2 lokal di daerah2 sana. Semua rata2 isinya menurut besaran pengaruh dari tokoh pengusaha, orang terpandang, partai penguasa suara dalam pemilihan umum, ataopun pemimpin wilayah (Bupati atau Gubernur).
—-
Mas Zumuk,
Jika menyangkut independensi dan dependensi maka persoalannya bukan cuma menyangkut media arus besar atau apalah. Portal blog pun bisa, demikian pula blogger-nya. Tapi bagi saya semuanya terpulang kepada pembaca bagaimana menyerap informasi.![]()
Tyo
Moes Jum, itu sebabnya kalau media arus utama, di Jakarta maupin di daerah hanya mengandalkan ilusi segelintir editor yang lebih mementingkan sisi bisnis dan berita-berita “good news” (termasuk berita berbau iklan), akan segera ditinggalkan. Berita dan pandangan blogger di Kompasiana ini justru lebih lugas dan jujur. Tidak ada interpensi editor dan pemilik koran di sini, juga tidak ada kepentingan bisnis. Asalkan tidak mengandung fitnah dan kebohongan saja, juga tidak mempersoalkan SARA karena mempersoalkan SARA tidak ada untungnya.
—
Mang Pepih,
Hahaha! Kalo saya jadi pengelola kompasiana malah harus mikir bisnis karena trafik dan komunitas itu bisa diuangkan.![]()
Adapun SARA, menurut saya, bukan tabu untuk dikomunikasikan — dengan menyesuaikan tempat, waktu, dan mitra bincang. Itu bagian dari pendewasaan masyarakat.
![]()
(Tyo)
kirim komentar
Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. ...